Laman

Rabu, 10 Oktober 2012

Makalah Teori Biaya

Dalam ekonomi yang sudah modern ,dimana peranan uang amat penting,maka ukuran efisiensi yang paling baik (walaupun bukan paling lengkap) adalah uang. Produksi dan biaya produksi bagaikan keping mata uang logam bersisi dua.
Seiring berkembangnya zaman,setelah mengalami pertambahan penduduk dan perkembangan teknologi secara terus – menerus.Situasi kehidupan masyarakat menjadi berubah. Di lain pihak jenis dan jumlah kebutuhan hidup menjadi makin tidak terbatas.Barang-barang yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup tidak dapat lagi diambil langsung dari alam,tetapi harus diproduksi lebih dahulu. Memproduksi jagung yang efisien secara teknis dapat dicapai dengan menggunakan peralatan pertanian modern.Tetapi biaya per unit baru akan menjadi murah jika skala produksinya minimal 200 hektar.Padahal kemampuan keuangan petani hanya untuk 2,5 hektar.Untuk skala produksi sekecil itu,menggunakan peralatan pertanian modern walaupun efisien secara teknis,menimbulkan biaya produksi per kilogram jagung yang sangat tinggi.Petani lebih memilih teknik produksi dengan peralatan sederhana. B. Tujuan Penelitian Makalah ini disusun dengan tujuan untuk mempelajai dan mengetahui pengetahuan materi “TEORI BIAYA“ pada kuliah ekonomi manajerial yang telah kami disajikan. C. Rumusan Masalah 1. Konsep Biaya 2. Biaya peluang (opportunity cost) 3. Biaya eksplisit dan implisit 4. Biaya incremental dan sunk cost 5. Produksi,Produktivitas,dan Biaya 6. Biaya Jangka Pendek 7. Biaya Jangka Panjang 8. Elastisitas Biaya 9. Biaya Minimum Yang Efesien 10. Ukuran perusahaan dan pabrik 11. Ukuran perusahaan dan fleksibilitas 12. Analisa peluang-pokok 13. Analisis Peluang-pokok Linear 14. Analisis Peluang-pokok Secara aljabar BAB II PEMBAHASAN Istilah biaya bisa diartikan bermacam-macam dan pengertiannyapun berubah-ubah, tergantung pada bagaimana biaya tersebut digunakan. Umumnya, biaya berkaitan dengan tingkat harga suatu barang yang harus dibayar. Jika kita membeli sebuah produk secara tunai dan kemudian segera menggunakan produk tersebut, maka tidak akan ada masalah yang timbul dalam mendefinisikan dan pengukuran biaya produk tersebut. Namun demikian, jika barang tersebut dibeli lalu disimpan untuk sementara waktu, dan kemudian jika barang tersebut dibeli lalu disimpan intuk sementara waktu dan kemudian baru digunakan maka akan muncul masalah. Masalah tersebut akan lebih rumit lagi jika barang tersebut merupakan asset yang berumur panjang yang akan digunakan pada tingkat yang bermacam-macam pada beberapa periode waktu yang tak terbatas. Lantas, berapa biaya penggunaan asset tersebut selama periode tertentu? Biaya akan digunakan untuk suatu penggunaan tertentu disebut biaya relevan. Pada saat penghitungan biaya yang akan digunakan untuk mengisi formulir pajak pendapatan sebuah perusahaan, para akuntan diperlukan untuk membuat perincian jumlah rupiah yang aktual yang dikeluarkan untuk membayar tenaga kerja, bahan baku, dan peralatan modal yang digunakan dalam produksi.oleh karena itu, untuk tujuan-tujuan pembayaran pajak, pengeluaran rupiah historis adalah biaya relevan yang dimaksudkan diatas. 1. Kosep Biaya Pengertian biaya dalam ilmu ekonomi adalah biaya kesempatan.Konsep ini dipakai analisis teori biaya produksi.Dalam konsep ini ada biaya eksplisit dan biaya implisit.Biaya eksplisit adalah biaya-biaya yang secara eksplisit terlihat,terutama melalui laporan keuangan.Contoh biaya eksplisit adalah biaya listrik,telepon dan air,pembayaran gaji buruh dan gaji karyawan.Biaya implisit adalah biaya kesempatan,antara lain biaya tenaga kerja,biaya barang modal dan biaya kewirausahaan. Biaya barang modal,dalam biaya ekonomi penggunaan barang modal bukanlah berapa besar uang yang harus dikeluarkan untuk menggunakannya,melainkan berapa besar pendapatan yang diperoleh bila mesin disewakan kepada perusahaan lain. Wirausahawan adalah orang yang mengombinasikan berbagai faktor produksi untuk ditransformasi menjadi output berupa barang dan jasa.Atas keberanian menanggung resiko,pengusaha mendapat balas jasa berupa laba.Laba adalah kelebihan pendapatan yang diperoleh dibanding dengan pengeluaran yang dilakukan. 2. Biaya peluang (opportunity cost) Sumber daya ekonomi mempunyai nilai karena sumber daya tersebut bisa digunakan untuk memproduksi barang-barang dan jasa untuk konsumsi. Ketika sebuah perusahaan menggunakan suatu sumber daya untuk memproduksi sebuah produk tertentu perusahaan tersebut juga menawarkan sumber daya tersebut kepada para pemakai alternatif. Oleh karena itu konsep biaya peluang menunjukkan kenyataan bahwa semua keputusan didasarkan pada pilihan diantara tindakan alternatif. Biaya peluang sebuah sumber daya ditentukan oleh nilai penggunaan alternatif terbaik dari sumber daya tersebut. 3. Biaya eksplisit dan implisit Biaya penggunaan sumber daya mencakup biaya eksplisit dan biaya implisit. Upah yang dibayarkan, pengeluaran untuk listrik, pembayaran untuk bahan-bahan baku, bunga yang dibayarkan kepada para pemegang obligasi perusahaan dan sewa bangunan. Biaya implisit berkenan dengan setiap keputusan yang jauh lebih sulit untuk dihitung. Biaya-biaya implisit ini tidak memasukkan pengeluaranpengeluaran tunai dan oleh karena itu seringkali diabaikan dalam analisis pembuatan keputusan. Sewa yang bisa diterima seorang petani dari ladang jika la tidak menggunakan ladang tersebut merupakan biaya implisit dari kegiatan-kegiatan pertaniannya. 4. Biaya incremental dan sunk cost Adalah biaya yang akan timbul sebagai akibat dari adanya suatu keputusan sebagai akibat dari adanya suatu keputusan. Biaya incremental ini merupakan perubahan biaya total yang disebabkan oleh adanya suatu keputusan yang sedang dibuat. Biaya incremental ini harus diidentifikasi secara tepat, hanya biaya-biaya yang berubah secara nyata sebagai hasil dari suatu keputusan yang bisa dimasukkan, tetapi semua biaya berubah sebagai akibat dari adanya keputusan tersebut harus dimasukkan. Faktor-faktor produksi yang menganggur (tak terpakai) yang tidak mempunyai penggunaan alternatif tidak mempunyai biaya incremental dan oleh karena itu bisa dianggap tidak mempunyai biaya. 5. Produksi,Produktivitas.dan Biaya Produktivitas yang tinggi menyebabkan tingkat produksi yang sama dapat dicapai dengan biaya yang lebih rendah.Produktivitas dan biaya mempunyai hubungan terbalik.Jika produktivitas makin tinggi,biaya produksi akan makin rendah.Begitu juga sebaliknya.Dalam jangka pendek ada faktor produksi tetap yang menimbulkan biaya tetap,yaitu biaya produksi yang besarnya tidak tergantung pada tingkat produksi.Dalam jangka panjang,karena semua faktor produksi adalah variabel artinya biaya produksi dapat disesuaikan dengan tingkat produksi.Dalam jangka panjang,perusahaan akan lebih mudah meningkatkan produktivitas dibanding dalam jangka pendek.Itu sebabnya ada perusahaan yang mampu menekan biaya produksi.Sehingga setiap tahun biaya produksi per unit makin rendah.Pola pergerakan biaya rata – rata ini berkaitan dengan karakter fungsi produksi jangka panjang. 6. Biaya Jangka Pendek Yaitu jangka waktu dimana perusahaan telah dapat menambah faktor-faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi.Dalam biaya produksi jangka pendek ditinjau dari hubungannya dengan produksi di bagi mejadi 2 yaitu: 1. Dalam hubungannya dengan tujuan biaya a. Biaya Langsung (Direct Cost) Biaya Langsung merupakan biaya-biaya yang dapat diidentifikasi secara langsung pada suatu proses tertentu ataupun output tertentu. Sebagai contoh adalah biaya bahan baku langsung dan tenaga kerja yang dibutuhkan oleh perusahaan. Begitu juga dengan supervise, listrik, dan biaya overhead lainnya yang dapat langsung ditelusuri pada departemen tertentu. b. Biaya Tidak Langsung (Indirect Cost) Biaya Tidak Langsung merupakan biaya-biaya yang tidak dapat diidentifikasi secara langsung pada suatu proses tertentu atau output tertentu, misalnya biaya lampu penerangan dan Air Conditioning pada suatu fasilitas. 2. Dalam hubungannya dengan perubahan volume kegiatan a. Biaya Total (Total Cost) / TC Biaya total merupakan jumlah keseluruhan biaya produksi yang dikeluarkan perusahaan yang terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel. Biaya total dapat dihitung dengan menggunakan umus sebagai berikut: TC = FC + VC Keterangan: TC = Biaya total (Total Cost) FC = Biaya tetap (Fixed Cost) VC = Biaya Variabel (Variable Cost) b. Biaya Variabel (Variabel Cost) / VC Biaya varIabel merupakan biaya yang berubah secara linier sesuai dengan volume output operasi perusahaan. Sebagai contoh adalah biaya pulsa telepon bulanan, biaya pengeluaran untuk upah dan bahan baku. Biaya variabel dapat dihitung dari penurunan rumus menghitung biaya total, yaitu: TC = FC + VC VC = TC - FC c. Biaya Tetap (Fixed Cost) / FC Biaya tetap merupakan biaya yang tidak berubah mengikuti tingkat produksi. Sebagai contoh adalah biaya peneliharaan pabrik dan asuransi, biaya abonemen telepon bulanan. Biaya tetap dapat dihitung sama seperti biaya variabel, yaitu dari penurunan rumus menghitung biaya total. Penurunan rumus tersebut, adalah: TC = FC + VC FC = TC – VC d. Biaya Total Rata-Rata (Average Total Cost) / ATC Biaya total rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya total (TC) untuk memproduksi sejumlah barang tertentu (Q) dibagi dengan jumlah produksi oleh perusahaan. Biaya total rata-rata dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut, yaitu: ATC = AFC + AVC e. Biaya Variabel Rata-Rata (Average Variabel Cost) / AVC Biaya variabel rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya variabel (VC) untuk memproduksi sejumlah baran (Q) dibagi dengan jumlah produksi tertentu. Biaya variabel rata-rata dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut, yaitu: AVC = ATC-AFC f. Biaya Tetap Rata-Rata (Average Fixed Cost) / AFC Biaya tetap rata-rata merupakan biaya yang apabila biaya tetap (FC) untuk memproduksi sejumlah barang tertentu (Q) dibagi dengan jumlah produksi tersebut. Biaya tetap rata-rata dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut: AFC = ATC-AVC 3. Dalam hubungannya dengan keputusan-keputusan manajemen a. Biaya Marginal (Marginal Cost) / MC Biaya marginal dapat juga dikatakan sebagai biaya pertambahan (incremental cost). Biaya marginal merupakan kenaikan biaya produksi yang dikeluarkan untuk menambah produksi sebanyak satu unit keluaran tambahan. Biaya marginal dapat dihitung dengan menggunakan rumus: QTC/ MC Berikut ini contoh kurva biaya jangka pendek: 7. Biaya Jangka Panjang Sebagaimana telah dikemukakan dalam konsep produksi jangka panjang, bahwa dalam produksi jangka panjang semua input diperlakukan sebagai input variabel. Jadi, tidak ada input tetap. Maka dalam konsep biaya jangka panjang semua biaya dianggap sebagai biaya variabel (variabel cost), tidak ada biaya tetap. Dalam jangka panjang, perusahaan dapat menambah semua faktor-faktor produksi yang akan digunakan oleh perusahaan. Jangka panjang, yaitu jangka waktu di mana semua faktor produksi dapat mengalami perubahan, yaitu jumlah daripada faktor-faktor produksi yang digunakan oleh perusahaan dapat ditambah apabila memang dibutuhkan. Faktor-faktor produksi tersebut adalah: faktor pasar, faktor bahan mentah, faktor fasilitas angkutan, dan faktor tenaga kerja. Karena hal itulah biaya yang relevan dalam jangka panjang adalah biaya total,biaya variabel,biaya rata-rata,dan biaya marginal. a. Biaya total (jangka panjang) adalah biaya yang dikeluarkan untuk memproduksi seluruh output dan semuanya bersifat variabel.Biaya total sama dengan perubahan biaya variabel.di tulis dengan rumus: LTC = LVC Di mana : LTC = Biaya total Jangka Panjang (Long Run Total Cost) LVC = Biaya Variabel Jangka Panjang (Long Run Variable Cost) b. Biaya Marjinal adalah tambahan biaya karena menambah produksi sebanyak satu unit. Perubahan biaya total adalah sama dengan perubahan biaya variabel.Maka rumusnya adalah : LMC =∆LTC / ∆Q Di mana : LMC = Biaya Marjinal Jangka Panjang (Long Run Marginal Cost) ∆LTC = Perubahan Biaya Total Jangka Panjang ∆Q = Perubahan Output c. Biaya Rata – Rata adalah Biaya total di bagi jumlah output.Di tunjukkan dengan rumus : LAC = LTC / Q Dimana : LAC = Biaya Rata – Rata Jangka Panjang (Long Run Average Cost) Q = Jumlah output. Return To Scale Ada banyak faktor yang menyebabkan terjadinya pola produksi di mana mula-mula increasing returns to scale kemudian decreasing returns to scale. Scale produksi yang ekonomis (economies of scale), yang menyebabkan biaya rata-rata jangka panjang atau log-run average cost (LRAC) menurun, terjadi karena hubungan produksi dan hubungan pasar. Spesialisasi dalam penggunaan tenaga kerja merupakan salah satu faktor penting yang menghsilkan economies of scale. Para pekerja disebuah perusahaan kecil biasanya mempunyai beberapa pekerjaan, dan keahlian mereka untuk suatu jenis pekerjaan biasanya lebih rendah dari para pekerja yang hanya berspesialisasi dalam satu pekerjaan saja dan produktivitas tenaga kerja seringkali lebih tinggi dalam suatu perusahaan yang besar, dimana individu bisa dipekerjakan untuk suatu pekerjaan tertentu. Hal tersebut akan menurunkan unit biaya produksi untuk skala produksi yang lebih besar. Faktor teknologi juga bisa menimbulkan economies of scale. Skala produksi yang besar biasanya memungkinkan penggunaan peralatan modern yang canggih. Produktivitas peralatan tersebut seringkali juga meningkatkan jumlah produksi lebih cepat daripada biaya. Misalnya, pemangkit listrik yang berkekuatan 500.000 kilowatt biasanya membutuhkan biaya tidak sampai dua-kali dari biaya pembangkit listrik yang berkekuatan 250.000 kilowatt. Adanya potongan-potongan kuantitas (pembelian) juga bisa menyebabkan economies of scale melalui pembelian bahan baku, persediaan dan input-input lainnya secara besar-besaran. Keadaan yang ekonomis ini meluas sampai biaya kapital. Biasanya, semakin besar suatu perusahaan maka ia mempunyai akses yang lebih besar pula terhadap pasar modal dan bisa memperoleh dana dengan tingkat bunga yang lebih rendah. Faktor-faktor tersebut dan yang lain-lainnya bisa menghasilkan increasing returns to scale dan oleh karena itu akan menurunkan biaya-biaya. Ada beberapa tingkat output, economies to scale biasanya tidak berlangsung lama, karena kemudian biaya rata-rata atau average cost (AC) mulai meningkat. Kenaikan AC pada tingkat output yang tinggi seringkali disebabkan oleh keterbatasan menajemen dalam mengkoordinasi sebuah organisasi pada saat manajemen tersebut mencapai ukuran yang sangat besar daripada output (yang menyebabkan kenaikan unit biaya) dan manajemen menjadi kurang efisien yang akhirnya meningkatkan biaya produksi suatu produk. Walaupun keberadaan diseconomies of scale seperti itu masih diperdebatkan oleh para peneliti, namun kenyataan menunjukkan bahwa diseconomies memang terjadi dalam industri-industri tertentu. Dalam hal ini, penggunaan konsep biaya relevan untuk pengambilan keputusan penentuan tingkat output dan harga secara tepat membutuhkan suatu pemahaman mengenai hubungan antara biaya dengan output dari suatu perusahaanm atau dengan kata lain fungsi biayanya. Fungsi biaya ini tergantung pada: 1. Fungsi produksi dari perusahaan 2. Fungsi penawaran pasar dari input-input yang digunakan perusahaan tersebut. Fungsi produksi menunjukan hubungan teknis antara kombinasi-kombinasi penggunann input dengan tingkat output-nya , dan hal tersebut jika dikombinasikan dengan harga-harga input akan menghasilkan fungsi biaya. Dua fungsi biaya utama yang digunakan dalam pembuatan keputusan menajerial yaitu fungsi biaya jangka pendek yang digunakan terutama sekalai dalam pembuatan keputusan operasional sehari-hari dan fungsi biaya jangka panjang yang biasanya digunakan untuk perencanaan jangka panjang. Bagaimana caranya untuk membedakan antara jangka panjang dan jangka pendek? Jangka pendek didefinisikan sebagai suatu periode waktu dimana beberapa input bersifat tetap. Dalam jangka panjang, perusahaan bisa menambah, menurunkan, atau mengubah penggunaan faktor-faktor produksi tanpa batasan. Oleh karana itu, dalam periode jangka pendek, keputusan-keputusan perusahaan tersebut dikendalai oleh pengeluaran-pengeluaran modal sebelumnya dan komitmen-komitmen lainnya, sedangkan dalam jangka panjang tidak ada pembatasan-pembatasan sperti itu. Singkatnya, jangka panjang adalah suatu periode yang cukup panjang yang memungkinkan perusahaan untuk mengubah fasilitas-fasilitas produksinya secara lengkap melalui penmabahan, pengurangan, atau pengubahan asset yang dimilikinya. Jangka pendek adala periode dimana beberapa faktor produksi yang digunakan perusahaan tersebut tidak bisa diubah-ubah. Dari pengertian tersebut, mudah bagi kita untuk memahami mengapa kurva-kurva biaya jangka panjang sering disebut sebagai kurva operasi. Dalam jangka panjang pabrik dan semua peralatan bersifat variabel secara fisik berdasarkan hasil penaksiran fungsi permintaan perusahaan tersebut. Jika skala pabrik yang optimal tersebut telah ditentukan dan investasi peralatan telah dilakukan,maka keputusan-keputusan operasional akan dikendalai oleh keputusan-keputusan sebelumnya tersebut. 8. Elastisitas Biaya Walaupun Gambar 6.1., 6.3. dan 6.4. sangat membantu untuk menjelaskan hubungan antara biaya total (TC) dan output dengan returns to scale, tetapi akan lebih mudah bagi kita untuk menghitung returns to scale suatu sistem produksi melalui elastisitas biaya. Elastisitas biaya, εc mengukur persentase perubahan biaya total (TC) yang disebabkan oleh satu persen perubahan output. Secara aljabar elastisitas biaya tersebut adalah : Hubungan antara elastisitas biaya dengan returns to scale adalah sebagai berikut: Pada elastisitas biaya lebih kecil satu (εc < 1), biaya akan meningkat lebih lambat daripada output. Jika harga-harga Input tidak berubah (konstan), maka εc < I tersebut secara tidak langsung menunjukkan rasio output-input yang lebih tinggi dan keadaan increasing returns to scale εc = 1, maka proporsi kenaikan output dan biaya besarnya sama dan ini menunjukkan constant returns to scale. Jika εc > 1, maka setiap kenaikan output akan menyebabkan kenaikan biaya yang lebih besar, ini menunjukkan keadaan decreasing returns to scale. Pengetahuan tambahan mengenai skala produksi yang ekonomis dan hubungan antara biaya jangka panjang dan jangka pendek bisa diperoleh melalui penelaahan kurva biaya rata-rata jangka panjang atau long-run average cost (LRAC). Karena kurvakurva biaya jangka panjang menunjukkan skala-skala pabrik yang optimal untuk setiap tingkat produksi, maka kurva LRAC bisa dianggap sebagai amplop dari kurva-kurva biaya rata-rata jangka pendek atau short-run average cost (SRAC). Konsep ini dilukiskan pada gambar 6.5. dimana 4 kurva SRAC menyajikan 4 skala pabrik yang berbeda. Keempat pabrik tersebut masing-masing mempunyai kisaran output paling efisien. Misalnya pabrik A, mempunyai sistem produksi dengan biaya terkecil (least cost) pada kisaran antara 0 dan Q, unit. Pabrik B pada kisaran antara Q1 dan Q2, sedangkan pabrik C pada kisaran antara Q2 dan Q3, dan pabrik D pada kisaran di atas Q3. Bagian yang bergaris tebal pada sebab kurva dalam gambar 6.5. tersebut menunjukkan LRAC minimum untuk menghasilkan setiap tingkat output, dengan mengasumsikan bahwa hanya ada empat kemungkinan skala pabrik. Kita bisa menggeneralisir hal tersebut dengan menganggap bahwa pabrik-pabrik tersebut mempunyai berbagai ukuran, dimana masing-masing mempunyai ukuran sedikit lebih besar dari yang sebelumnya. Seperti ditunjukkan dalam gambar 6.6. kurva SRAC. Pada setiap titik singgung tersebut, skala pabrik yang terjadi adalah optimal. Sistem biaya yang dilukiskan dalam gambar 6.5 dan 6.6 mula-mula menunjukkan keadaan increasing returns to scale kemudian decreasing returns to scale. Pada kisaran output yang dihasilkan oleh pabrik A, B dan C dalam gambar 7.5 biaya rata-rata (AC) menurun. Menurunnya biaya tersebut menunjukkan bahwa kenaikan biaya total lebih kecil daripada output. Karena biaya minimum pabrik D lebih besar daripada pabrik C, maka sistem tersebut menunjukkan decreasing returns to scale pada tingkat output yang lebih tinggi Sistem produksi yang mula-mula menunjukkan increasing returns to scale, kemudian constant returns to scale, dan kemudian dimishing returns to scale akan menghasilkan kurva LRAC yang berbentuk U seperti ditunjukkan pada gambar 6.6. perhatikan bahwa dengan kurva LRAC yang berbentuk U, pabrik yang paling effisien untuk setiap tingkat output biasanya tidak akan beroperasi pada SRAC minimum, seperti yang bisa dilihat pada gambar 6.5. kurva SRAC pabrik B lebih rendah. Secara umum, pada saat increasing returns to scale terjadi, pabrik yang mempunyai biaya terkecil untuk menghasilkan suatu output akan beroperasi lebih rendah dari kapasitas, penuhnya. Hanya untuk satu tingkat output dimana LRAC minimum (output Q* dalam gambar 6.5. dan 6.6.), sebuah pabrik yang optimal akan beroperasi pada titik minimum dari kurva SRAC-nya. Pada semua tingkat output dalam kisaran dimana decreasing returns to scale terjadi, yakni pada setiap output yang lebih besar dari Q*, pabrik yang paling efisien akan beropersi pada suatu tingkat output yang sedikit lebih besar dari pada kapasitasnya. 9. Biaya Minimum Yang Efesien Bentuk kurva LRAC tidak hanya penting karena implikasinya bagi penentuan skala pabrik, tetapi juga karena ia mempengaruhi tingkat persaingan potensial yang akan tejadi dalam suatu industri, keadaan yang mula-mula increasing returns to scale dan kemudian constant returns to scale sering dijumpai. Dalam industri-industri seperti itu, kurva LRAC-nya berbentuk L. Biasanya, persaingan cenderung akan lebih keras di dalam industri yang mempunyai kurva LRAC yang berbentuk U dan pada yang berbentuk L atau kurva LRAC yang berslope menurun. Pengetahuan mengenai hal ini bisa diperoleh melalui penelaahan konsep biaya minimum efficient scale (MES) dari sebuah pabrik. MES ini didefinisikan sebagai tingkat output dimana LRAC adalah minimum. MES akan terdapat pada titik minimum kurva LRAC yang berbentuk U (output Q* dalam Gambar 7.5 dan 7.6) dan pada sudut kurva LRAC yang berbentuk L. Pada umumnya persaingan cenderung akan lebih keras di dalam industri-industri dimana MES-nya sangat kecil jika dibandingkan dengan permintaan industri secara total karena kecilnya faktor penghalang untuk memasuki industri tersebut, misalnya persyaratan investasi modal dan tenaga kerja terlatih. Persaingan tidak akan begitu keras jika MES cukup besar karena faktor penghalang untuk memasuki pasar cenderung cukup kuat sehingga membatasi jumlah pesaing potensial. Untuk mengamati pengaruh persaingan pada suatu tingkat MES tertentu, kita harus selalu memperhatikan ukuran industri secara keseluruhan. Dalam industri-industri yang cukup besar, jumlah pesaing yang sangat besar dan efisien bisa muncul. Dalam keadaan seperti itu, walaupun MES cukup besar secara absolut, tetapi MES tersebut bisa sangat kecil secara relatif, dan persaingan yang keras masih mungkin terjadi. Lebih jauh lagi, jika kerugian biaya operasi yang kecil dari ukuran MES pabrik-pabrik itu secara relatif kecil, maka kadangkadang akan ada akibat-akibat anti persaingan. Dengan kata lain, pengarah halangan dari MES tersebut tergantung pada ukuran MES pabrik tersebut dibandngkan dengan permintaan industri secara total. 10. Ukuran perusahaan dan pabrik Fungsi produksi dan biaya terdapat baik pada tingkat pabrik secara individual, perusahaan-perusahaan dengan beberapa pabrik (multi-plant firm), maupun pada tingkat perusahaan secara keseluruhan. Fungsi biaya sebuah perusahaan dengan beberapa pabrik merupakan penjumlahan fungsi biaya dari pabrik-pabrik secara individual. Untuk menjelaskan hal tersebut, anggap bahwa keadaan yang ditunjukkan oleh gambar 7.6 terjadi yakni sebuah kurva LRAC yang berbentuk U pada tingkat pabrik. Jika permintaan cukup besar, maka perusahaan tersebut akan menggunakan pabrik sebanyak N dimana masing-masing ukurannya optimal dan menghasilkan output sebesar Q* unit. Dalam kasus ini, bagaimanakah bentuk kurva LRAC sebuah perusahaan. Gambar 6.7 menunjukkan 3 kemungkinan. Pertama, LRAC keadaan yang ekonomis dan disekonomis dalam pengkombinasian pabrik-pabrik yang ada. Kedua, biaya mengalami penurunan ada semua kisaran output, seperti ditunjukkan gambar 6.4(b), jika perusahaan-perusahaan dengan beberapa pabrik (multiplant firm) lebih efisien daripada perusahaan-perusahaan dengan satu pabrik. Kasuskasus seperti terjadi disebabkan oleh ekonomisnya biaya pengoperasian berbagai pabrik. Kemungkinan ketiga, ditunjukkan oleh gambar 6.7(c) adalah biaya mulamula menurun (sampai Q* merupakan output dari pabrik yang paling efisien) dan kemudian menarik. Disini mula-mula terjadi economic of scale, kemudian biaya koordinasi menjadi lebih besar daripada manfaat yang bisa diperoleh. 11. Ukuran perusahaan dan fleksibilitas Apakah pabrik yang bisa menghasilkan sejumlah output tertentu pada kemungkinan biaya terendah juga merupakan pabrik yang optimal untuk menghasilkan tingkat output yang diharapkan? Jawabnya adalah pasti tidak. Perhatikan keadaan berikut. Misalkan permintaan aktual akan suatu produk tertentu tidak bisa harapkan sebesar 5.000 unit per tahun. Dua kemungkinan distribusi probabilitas dan permintaan tersebut ditunjukkan dalam gambar 6.8. Distribusi L menunjukkan permintaan dengan derajat variabilitas yang rendah, sedangkan distribusi H menunjukkan variasi permintaan yang lebih tinggi. Sekarang anggap ada dua pabrik yang bisa digunakan untuk menghasilkan tingkat output yang dibutuhkan tersebut. Pabrik A sangat terspesialisasi dan dilengkapi dengan alat-alat tertentu untuk menghasilkan tingkat output yang ditentukan pada tingkat biaya per unit yang rendah. Namun, jika output yang dihasilkan tersebut lebih atau kurang dari output yang telah ditentukan itu dalam kasus ini 5.000 unit, maka biaya produksi akan meningkat dengan cepat. Di lain pihak, pabrik B lebih fleksibel. Output bisa diperbanyak atau diperkecil tanpa ada kelebihan biaya, tetapi unit biaya tidak tidak serendah pabrik A pada tingkat output optimalnya. Kedua kasus ini ditunjukkan dalam gambar 6.9. Pabrik A lebih efisien dari pabrik B untuk output antara 4.500 dan 5.500 unit, tetapi di luar kisaran tersebut pabrik B mempunyai biaya yang lebih rendah. Manakah pabrik yang akan dipilih? Jawabnya tergantung pada perbedaan biaya relatif pada tingkat-tingkat output yang berbeda dan distribusi probabilitas permintaan. Perusahaan tersebut akan memilih perusahaan berdasarkan total rata-rata yang diharapkan atau expected total cost ( A Q Q dan varibulitas biaya tersebut ). Dalam hal ini, jika distribusi probabilitas permintaan dengan variasi yang rendah, distribusi L adalah tepat, maka fasilitas yang semakin terspesialisasi akan optimal. Jika distribusi probabilitas H lebih tepat melukiskan keadaan permintaan, maka biaya minimum yang lebih rendah dari fasilitas yang semakin terspesialisasi tersebut tidak hanya akan ditutup, oleh kemungkinan biaya produksiyang lebih tinggi di luar kisaran output 4.500-5.000 unit dan pabrik B bisa memitiki biaya yang diharapkan lebih rendah atau suatu kombinasi biaya-biaya yang diharapkan yang lebih menarik dan mempunyai variasi biaya yang potensial. 12. Analisa peluang-pokok Analisis peluang-pokok (break enven analysis) atau sering juga disebut analisis konstribusi laba merupakan teknik analisis penting yang digunakan untuk mempelajari hubungan-hubungan antara biaya, penerimaan dan laba. Sifat analisis peluang-pokok ini dilukiskan dalam gambar 6.10 yakni sebuah grafik dasar peluang-pokok, yang terbentuk dari kurva biaya total (TC) dan penerimaan dan penerimaan total (TR) suatu perusahaan. Volume output ditunjukkan oleh sumbu horisontal, sedangkan penerimaan dan biaya ditunjukkan pada sumbu vertikal. Karena biaya tetap (FQ) selalu konstan tanpa memandang berapapun jumlah output yang dihasilkan, maka FC tersebut ditunjukkan oleh garis yang mendatar. Biaya variabel (VQ) pada setiap output ditunjukkan oleh jarak antara kurva TC dan kurva FC. Kurva TR menunjukkan hubungan harga/permintaan akan produk perusahaan tersebut dan laba/kerugian pada setiap output ditunjukkan oleh jarak antara kurva TR dan kurva TC. Walaupun gambar 6.10 disebut grafik peluang-pokok dan bisa digunakan untuk menentukan kuantitas output di mana perusahaan tersebut dimulai memperoleh laba yang positif, nilai analitisnya bisa juga digunakan untuk menentukan tingkat output peluang-pokok. Grafik tersebut menggambarkan hubungan penerimaan dan biaya pada seluruh tingkat output dan oleh karena itu bisa digunakan untuk menganalisis apa yang terjadi terhadap laba jika volume output berubah-ubah. 13. Analisis Peluang-pokok Linear Dalam penerapan analisis peluang-pokok, hubungan yang linier biasanya digunakan untuk menyederhanakan analisis tersebut. Analisis peluang-pokok nonlinear cukup menarik secara intelektual karena alasan pokok yaitu: (1) tampaknya masuk akal untuk menduga bahwa banyak kasus kenaikan penjualan bisa dicapai hanya jika harga diturunkan, dan (2) analisis fungsi biaya menunjukkan bahwa biaya variabel rata-rata (AVC) akan turun pada kisaran output tertentu dan kemudian meningkat. Namun demikian, seperti tampak pada contoh, analisis linear cukup memadai untuk berbagai penggunaan. Grafik peluang-pokok memungkinkan seseorang memusatkan perhatiannya terhadap unsur-unsur pokok dari laba seperti: penjualan, biaya tetap (FC), dan biaya variabel (VC). Selain itu, walaupun grafik peluang-pokok linear dilukiskan mulai dari tingkat output sama dengan nol sampai dengan tingkat output yang paling tinggi, tetapi tak seorang pun yang menggunakan analisis ini yang akan memikirkan tingkat output yang tertinggi dan terendah tersebut. Dengan kata lain, para pengguna grafik peluang-pokok sesungguhnya hanya memperhatikan kisaran output yang relevan dan di dalam kisaran tersebut fungsi linear mungkin cukup tepat. Gambar 6.11 menunjukkan sebuah grafik peluang-pokok yang linear. Biaya tetap (FQ) sebesar Rp 60 juta ditunjukkan oleh sebuah garis horisontal. Biaya variabel (VC) dianggap sebesar Rp 1.800,- per unit, maka biaya total (TQ) akan meningkat sebesar Rp 1.800,- per unit untuk setiap satu unit tambahan output yang dihasilkan. Produk tersebut dianggap dijual dengan harga Rp 3.000,- per unit, jadi penerimaan total (TR) adalah sebuah garis lurus dari titik origin. Slope dari garis TR tersebut lebih curam daripada slope TC. Hal tersebut terjadi karena perusahaan tersebut akan menerima penghasilan sebanyak Rp 3.000,- untuk setiap unit produk yang dihasilkan, tetapi hanya mengeluarkan sebesar Rp 1.800,- untuk biaya tenaga kerja, bahan-bahan dan input-input variabel lainnya. Sampai titik peluang-pokok, yang ditunjukkan oleh perpotongan antara garis TR dan garis TC, perusahaan tersebut menderita kerugian. Selain melampaui titik tersebut, perusahaan itu mulai memperoleh laba. Gambar 6.11 menunjukkan titik peluang-pokok pada tingkat penjualan dan tingkat biaya sebesar Rp 150 juga yang terjadi pada tingkat produksi sebanyak 50.000 unit. 14. Analisis Peluang-pokok Secara aljabar Walaupun grafik peluang-pokok merupakan flat yang sangat berguna untuk melukiskan hubungan laba atau output, tetapi teknik-teknik aljabar biasanya merupakan suatu alat yang lebih efisien untuk menganalisis masalah-masalah pengambilan keputusan. Teknik aljabar untuk menyelesaikm masalah peluang-pokok bisa digambarkan dengan menggunakan hubungan-hubungan biaya dan penerimaan yang ditunjukkan dalam gambar 6.11. Mula-mula, misalkan: P = Harga jual per unit Q = Kuantitas yang diproduksi dan yang dijual TFC = Total Fixed Cost (Biaya tetap Total) AVC = Average Variable Cost (Biaya variabel Rata-rata) Kuantitas peluang-pokok, yang didefinisikan sebagai volume output dimana TR (P.Q) persis sama dengan TC (TFC + AVC.Q). Dalam contoh yang digambarkan oleh gambar 6.1l, P Rp 3.000,00 AVC = Rp 1.800,00 dan TFC = Rp 60 juta. Kuantitas peluang-pokok diperoleh sebagai berikut: BAB III PENUTUP Kesimpulan Biaya produksi atau operasional dalam sistem industri sangat memainkan peranan penting, karena menciptakan keunggulan kompetitif dalam persaingan antar-industri di pasar global. Hal ini desebabkan proporsi biaya produksi dapat mencapai sekitar 70% - 90% dari biaya total penjualan secara keseluruhan, sehingga reduksi biaya produksi melalui peningkatan efisiensi akan membuat harga jual yang ditetapkan oleh produsen menjadi lebih kompetitif. Biaya dalam ekonomi manajerial mencerminkan efisiensi sistem produksi, sehingga konsep biaya juga mengacu pada konsep produksi, hanya apabila pada konsep produksi kita membicarakan penggunan input secara fisik dalam menghasilkan output produksi, maka dalam konsep biaya kita menghitung penggunaan input itu dalam nilai ekonomi yang disebut biaya. Sesuai dengan konsep produksi jangka pendek, di mana terdapat input tetap (fixed inputs) dan input variabel (variable inputs), maka pada dasarnya biaya yang diperhitungkan dalam produksi jangka pendek adalah biaya tetap (fixed costs) dan biaya variabel (variable costs). Konsep biaya jangka panjang diperlukan oleh manajer untuk menentukan skala operasi dari suatu perusahaan. Dalam membuat keputusan jangka panjang, manajer harus mengetahui biaya produksi minimum dalam memproduksi setiap tingkat output tertentu. Biaya jangka pendek diturunkan dari produksi jangka pendek, sedangkan biaya jangka panjang dari jalur perluasan jangka panjang (long-run expansion path). Analisis biaya jangka panjang sangat penting untuk mengetahui apakah suatu perusahaan beroperasi pada skala usaha yang ekonomis (economies of scale) atau tidak ekonomis (diseconomies of scale). Skala usaha ekonomi terjadi apabila perluasan usaha atau peningkatan output akan menurunkan biaya rata-rata jangka panjang (LAC). Sebaliknya skala usaha tidak ekonomis terjadi apabila perluasan usaha atau peningkatan output akan meningkatkan biaya rata-rata jangka panjang (LAC). Jika suatu perusahaan dalam mengembangkan usaha, memproduksi produk lain yang berbeda dengan produk yang sekarang diproduksi (melakukan diversifikasi usaha), maka yang harus dipantau bukan skala usahanya tetapi lingkup usaha yang ekonomis. Lingkup usaha ekonomis (economies of scope) terjadi apabila dalam suatu diversifikasi usaha ditandai oleh biaya produksi total bersama (joint total production cost) dalam memproduksi dua atau lebih jenis prosuk secara bersama adalah lebih kecil daripada penjumlahan biaya produksi dari masing-masing jenis produk itu apabila diproduksi secara terpisah. DAFTAR PUSTAKA Ekonomi Manajerial, Ekonomi Mikro Terapan untuk Manajemen Bisnis Edisi3 Drs. Lincolin Arsyad M.Sc. 2000. BPFE. Yogyakarta DAFTAR PUSTAKA Puji Astuti, Septin. 2012. Praktikum statistika. Fakultas syariah dan ekonomi islam IAIN Surakarta. Surakarta Suharyadi. 2007. Statistika untuk Ekonomi dan Keuangan Modern edisi 2. Salemba 4. Jakarta. Suharyadi. 2003. Statistika untuk Ekonomi dan Keuangan Modern edisi 1. Salemba 4. Jakarta. http://www.bps.go.id//trend angka Vertilitas total provinsi tahun 1991, 1994, 1998, 1999.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar